Asal nyoblos
| April 20, 2010 | Posted by Achmad Allam under Kehidupan |
Minggu tanggal 18 April 2010, pada siang hari berangkat menuju tempat pemilihan walikota Semarang. Suasana di tempat pemilihan sepi, beberapa panitia pemilihan sepertinya mengantuk menunggu kedatangan pemilih. Suasana sepi memberi keuntungan tersendiri, tidak perlu antri. Prosesnya menjadi sangat cepat, melapor terus kemudian mengambil kartu suara.
Jujur saja, saat berada di bilik suara, sebenarnya sama sekali tidak mengenal keseluruhan calon. Teman bukan, tetangga bukan apalagi sanak saudara. Yang teringat hanyalah lintasan foto-foto calon di spanduk-spanduk yang banyak dipajang di jalan-jalan, dengan segala pernak-pernik, berupa kalimat-kalimat yang mungkin dimaksudkan untuk menarik perhatian. Tapi itu tidak cukup memberi keyakinan untuk memilih salah satu calon dengan mantap.
Sebenarnya salah sendiri, tidak mau mencari tahu dan mencari informasi tentang kualitas, kapasitas dan visi misi calon-calon. Tapi apa ini memang melulu kesalahan sing milih, wong di tempat pemungutan suara sama sekali tidak ada keterangan tentang data-data biografi calon. Selembar kertas tentang riwayat dan visi misi calon pun tidak! Akhirnya yang jadi pertimbangan hanya satu yaitu asal nyoblos. Dan bisa jadi sebagian besar pemilih pun melakukan hal yang sama … ASAL NYOBLOS,…. BLOS!
Demokrasi pasca reformasi memang menjadi pintu terbukanya dinamika sosial budaya dan politik baru yang memberikan kebebasan kepada siapa pun warga di negeri ini untuk memilih dan dipilih. Jangan heran, Julia Perez, Ratih Sanggarwati dan Venna Melinda, bisa dipinang partai untuk menjadi calon Adipati suatu negeri. Tak mau kalah Maria Eva…!!! Hebat tenan! Hebat campur heboh! Rupanya popularitas dan kekayaan sudah cukup menjadi prasyarat untuk dapat dipinang partai.
Sebetulnya tidak menjadi persoalan penting bila penetapan atau pengajuan untuk menjadi calon yang dipilih benar-benar didasarkan kepada kepentingan untuk memajukan dan mensejahterakan masyarakat. Dan calon yang dipilih benar-benar sudah melalui uji kelayakan, tidak semata-mata karena faktor popularitas dan kekayaan. Namun bila popularitas dan kekayaan untuk memperoleh kekuasaan pada akhirnya ditujukan untuk kembali kepada kepentingan pribadi dan golongan (dalam hal ini partai), maka kekuasaan dan kekayaan menjadi ciri sebab akibat berdemokrasi, artinya kekayaan ditujukan untuk memperoleh kekuasaan dan pada saatnya nanti kekuasaan yang diperoleh diperuntukkan untuk memperoleh kekayaan, maka semakin jelas menunjukkan wajah demokrasi yang sebenarnya di negeri ini. Kalau sudah begini, ya sudah asal nyoblos saja! Daripada tidak nyoblos, kan …haram katanya! Yuk…asal nyoblos!

















Komentar