Syarifudin Umar
| June 6, 2011 | Posted by Achmad Allam under Kehidupan |
Apalah arti sebuah nama, begitulah kata orang. Syarifuddin Umar, Mochammad Nazarudin, Wafid Muharram adalah nama-nama yang sangat bagus. Terkesan berkepribadian religius, menyebarkan teladan yang mumpuni bagi orang-orang di sekitarnya untuk bekerja dan berperilaku dengan selalu diikatkan dengan norma-norma agama dan kemasyarakatan dalam kehidupan sehari-hari. Tapi apalah daya, sebagaimana kata Sindhunata bahwa negeri ini tidak lebih dari negeri seribu celeng, orang-orang di negeri ini, apa pun nama dan gelar yang disandangnya memiliki topeng-topeng yang berkeliaran dengan rupa yang hampir sama untuk nampak “alim-aliman”, “soleh-solehan”, “baik-baikan”, “bijaksana-bijaksanaan”.
Saat gemerlap harta dan kekuasaan begitu menyilaukan dan saat kehormatan diri diukur dari rupiah, jabatan dan tunggangan ; Paijo, Udin, Karjo, Tugiyo, Hendrawan, Shalehudin, Sabarudin, tidak terkecuali apa pun namanya, berlomba-lomba meraih harta, jabatan dan tunggangan dengan cara apa pun untuk meraih ruang yang lebih terhormat di tengah-tengah masyarakat di negeri seribu celeng (lagi-lagi pinjam kata Sindhunata).
Syarifudin Umar benar-benar beruntung. Tidak sia-sia bersekolah tinggi dan akhirnya mendapatkan jabatan tinggi dan terhormat di pusat negeri, serta berhasil mengumpulkan rupiah dan dollar di rumahnya. Memiliki sahabat-sahabat kalangan petinggi-petinggi negeri. Selaku pejabat pemutus keadilan nampaknya dia disukai para petinggi negeri ; baik, fleksibel, kooperatif. Bisa ditebak hubungan baik ini bisa memeliharanya dari terbukanya topeng dari mukanya yang asli. Termasuk menjaga kehormatan topeng-topeng pejabat-pejabat tinggi negeri itu sendiri.
Tapi sebagaimana kata Jarjit sahabat Upin dan Upin, sepandai-pandai tupai melompat,….ternyata masih lebih pandai melompatnya KPK. Terkena cokoklah dia. Topengnya terlempar dan rontok. Yang tinggal bisa jadi muka tebal dan banal. Tebal dan banal terhadap ketidakdilan dan kejahatan yang seharusnya tidak membawa KPK melompat masuk rumahnya. Semoga saja KPK semakin pandai melompat mengalahkan tupai-tupai dan celeng-celeng yang paling pandai melompat sekalipun di negeri ini.


















Komentar