Author: Achmad Allam


About Achmad Allam

Tinggal di Semarang, Jawa Tengah. Mengotak-atik blog (sekedarnya) untuk memelihara idealisme (yang tersisa) & harapan untuk hari esok yang lebih baik.

Jaman edan! Itulah jawabannya

pendawa-taniBerlangsungnya KTT APEC di Bali boleh dikata (jadi) tidak tepat waktunya. Karena saat yang bersamaan, bangsa ini mengalami kejadian yang sungguh-sungguh memalukan. Saat ini, dunia menyaksikan keriuhan sebuah konferensi tingkat tinggi, dan di saat yang sama pula, dunia menyaksikan keriuhan sebuah skandal suap tingkat tinggi, kalau tidak mau dikatakan skandal korupsi tingkat tinggi.

Entah apa yang sedang dipikirkan para pemimpin bangsa ini. Melihat sebuah kenyataan yang pasti membuat kemarahan sebagian masyarakat yang masih memiliki nurani. Kemarahan yang semestinya bisa membuat pihak-pihak yang terbiasa melakukan penyalahgunaan kekuasaan atau jabatan untuk menarik diri sejenak, melakukan perenungan, instropeksi. Menata perilaku untuk bisa lebih baik menyesuaikan dengan nurani kebaikan yang ada dalam diri dan masyarakat.

Namun, seperti pepatah anjing menggonggong kafilah berlalu, masuk telinga kiri keluar telinga kanan, tak ada jaminan skandal suap tingkat tinggi itu tidak terulang lagi. Mengapa ini terjadi? Jawaban atas pertanyaan ini bisa berbagai macam tergantung sudut pandang masing-masing, bisa dari sisi moralitas, psikologi, pendidikan, budaya, sistem, sosial, ekonomi, politik, filsafat, dan lain-lain.

Namun, jawaban yang paling mudah dan tidak bertele-tele, jawaban yang tidak memerlukan analisa dan kepakaran, jawaban yang tidak akan membuat pusing tujuh puluh keliling, adalah sebagaimana yang termaktub dalam ramalan Jayabaya, bahwa saat ini mungkin sedang berlangsung jaman edan! Mengapa banyak orang dengan atribut kesalehan, masih melakukan kemungkaran? Itu karena jaman edan! Mengapa banyak orang dengan atribut gelar keilmuannya, masih juga korupsi! Itu karena jaman edan! Mengapa banyak orang dengan atribut pangkat tinggi di pundaknya, masih juga manipulasi? Itu karena jaman edan. Mengapa banyak orang dengan atribut jabatan dan bayaran tinggi, masih juga (lagi-lagi) korupsi! Itu karena jaman edan.

Serta atribut-atribut lain, yang semestinya melahirkan keteladanan dan kejujuran, namun yang terjadi adalah sebaliknya. Para pakar, perwira, pejabat, ustadz, guru, pamong, penegak hukum, pemimpin, wakil rakyat, nampak turut serta pula memiliki andil memeriahkan kekusutan jaman edan. Bersaing dengan para preman, mafioso, penjahat, pencopet, penipu, berebut lahan di ranah korupsi, manipulasi dan kriminal. Itulah jaman edan!

Saat reuni ke kampus!

Dramaga-20130928-00331Kembali mengunjungi kampus tempat menuntut ilmu puluhan tahun yang lalu, tak ada yang berubah di sana. Bangunan masih seperti dulu. Namun, sungguh tak habis pikir, lingkungan kampus itu nampak kotor, tidak terawat, semrawut, jauh dari bersih dan rapi. Padahal manusia-manusia terdidik menghabiskan hari-harinya di sana.

Baiklah tak perlu dipersoalkan masalah kecil itu. Kebersihan dan kerapian hanyalah soal kemauan. Yang ingin dibahas di sini, sekedar catatan kecil, yaitu apakah yang bisa dipetik dari acara-acara kembali ke kampus oleh para alumninya. Silaturahmi, kangen-kangenan bertemu teman lama semasa kuliah, itu jelas. Tapi apakah ada yang lebih dari itu?

Kampus adalah tempat menimba pendidikan tinggi. Dari sanalah menyebar sekian banyak lulusan. Mereka menduduki kelas sebagai kaum terdidik, menempati posisi-posisi penting dan strategis dalam kehidupan sosial politik bangsa dan negara ini. Saat kembali, setelah sekian lama meninggalkan kampus, sudah bisa dipastikan, sebagian dari mereka akan membawa kebanggaan. Bangga karena telah menduduki jabatan dan kedudukan tinggi, serta meraih keunggulan materi dalam pengabdian pekerjaannya.

Tapi kebanggaan itu hanya cukup untuk dinikmati sendiri, dihargai teman dan almamater. Tengoklah ke luar, apakah kebanggaan itu juga membawa kebanggaan bagi masyarakat dan bangsanya?

Sudah selayaknya saat kembali ke kampus, berkaca diri, bukan untuk berbangga diri. Bukan pula untuk menjadi ajang merapatkan barisan menguatkan kelompok alumni untuk menguasai perikehidupan sosial politik masyarakat dan bangsa. Bukan pula sebagai  ajang menjalin kekuatan memenangkan persaingan dengan kelompok alumni kampus yang lain.

Bangsa ini belumlah saatnya diisi dengan persaingan penguasaan posisi dan kedudukan  oleh para lulusan dari kampus yang berlainan. Namun, masyarakat dan bangsa ini sedang menunggu kiprah dan sumbangan masing-masing lulusan kampus agar tidak lagi impor daging sapi, kedelai, mobil bahkan pesawat terbang.

Kerusakan hutan dimana-mana, demoralisasi dimana-mana, mafia, korupsi dan manipulasi.  Kemiskinan dan pengangguran masih juga terlihat nyata di depan mata. Masihkah kita tega mengumbar nafsu primordial di tengah-tengah realita keprihatinan perikehidupan berbangsa dan bernegara, hanya untuk memperjuangkan kesukuan, almamaterisme?  Semoga saja, saat kembali lagi kumpul reuni, kampus tempat dulu kuliah bisa lebih bersih, rapi dan terawat, dan bisa berbangga meski belum semuanya, ada kemajuan dalam perikehidupan bangsa ini, tak peduli siapa dan darimana yang berperan.

Negeri penuh pecundang!

AKIL-MOCHTAR_11-300x219Tertangkap tangannya Ketua Mahkamah Konstitusi oleh KPK karena kasus suap sengketa Pilkada membuat semakin terang dan nyata, bahwa di negeri ini kejujuran adalah barang langka. Bisa jadi kelangkaan ini benar-benar menuju kepada titik nadir kepunahan atau bahkan memang telah dengan secara sengaja dipunahkan secara perlahan dan pasti, digiring oleh suatu sistem yang menggurita, yang memiliki kekuatan masif atas nama nafsu kuasa dan harta.

Jujur itu hebat! Sebuah slogan yang bila direnungkan seolah-olah mengandung keputusasaan, sekaligus harapan. Betapa telah sulitnya saat ini untuk menemukan kejujuran di negeri ini. Menemukan kejujuran seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami.

Slogan jujur itu hebat, dapatlah dipersamakan dengan kalimat menjadi juara itu hebat, dan yang bisa menjadi juara itu hanyalah satu, dua, atau tiga dari sekian banyak peserta lomba. Yang lainnya lebih banyak terlempar menjadi pecundang. Tidaklah mudah untuk menjadi juara. Pecundang jauh lebih banyak daripada sang juara. Namun, pecundang dalam lomba memiliki kehormatan, bila disertai dengan perjuangan, sportifitas dan kejujuran.

Ketidakjujuran berarti kebohongan, kepalsuan, tidak selarasnya kata dengan perbuatan. Berkata tidak, padahal ya! Berkata ya, padahal tidak! Lain di mulut, lain di hati. Ketidakjujuran adalah pecundang. Sedangkan kejujuran adalah juara, dan itu hebat! Kenyataannya lebih banyak pecundang daripada sang juara.  Pecundang-pecundang yang sejatinya telah hilang kehormatannya, dan telah hilang pula rasa malunya. Oleh karena itu, menjadi pecundang bukan sesuatu yang memalukan. Menjadi pecundang bisa jadi telah menjadi sebuah kewajaran di negeri ini. Bisa dibayangkan, mencari hakim yang jujur itu sulit! Demikian pula mencari pemimpin, politikus, aparat, karyawan, bahkan guru yang jujur. Sebaliknya mencari pecundang tanpa kehormatan tidaklah perlu bersusah payah.

Pecundang tanpa kehormatan ada dimana-mana, dari ujung negeri sampai pusat negeri, bahkan di sebuah benteng terakhir keadilan, yang semestinya dipenuhi banyak juara. Mengawal keadilan dan kejujuran. Namun, apalah artinya banyak juara, bila nakhoda kapal dipegang pecundang tanpa kehormatan. Benteng terakhir keadilan pun runtuh. Semoga saja nakhoda kapal negeri ini bukan pecundang tanpa kehormatan. Kalau tidak, maka celakalah negeri ini!

Begini nasib si penjaga hutan!

Cintai hutanSaat kita memergoki tunggak-tunggak pohon yang telah ditebas serampangan, sisa cabang dan daun berserakan, apa yang kita rasakan? Mangkel, jengkel, dan seribu satu sumpah serapah keluar dari mulut kita, yang berakhir dengan kesedihan, ketidakberdayaan, mengapa ini harus terjadi terus?

Pohon-pohon yang sejatinya sengaja ditanam untuk diwariskan kepada anak cucu sebagai harta hijau untuk mengawal kehidupan di bumi agar terhindar dari bencana lingkungan, bertumbangan tanpa pemberitahuan, tanpa surat perintah. Ditebang diam-diam oleh makhluk berkaki dua, homo sapiens masa kini, berjenis homo keparat, homo sontoloyo! Dan homo-homo sumpah serapah lainnya.

Sumpah serapah sekedar sumpah serapah, membuang seribu satu kejengkelan yang mengendap dan menggumpal di ubun-ubun. Teringat beban tanggung jawab yang harus dipikul. Menjaga hutan dari kejahilan makhluk berakal, berakal untuk melanggar hukum. Tapi apa daya, si homo jenis baru itu ternyata sudah jauh lebih pintar. Dulu cuma mengandalkan batu tajam dan tombak kayu, berjalan tanpa alas kaki, dan hidup hanya untuk makan.  Sekarang kampak, gergaji, bersepeda motor, berhandphone, bergerombolan, terorganisir! Masih kurang? Menyuap petugas, menjalin jaringan dan backingan. Hidup tidak sekedar untuk makan, tapi juga hura-hura, senang-senang, happy-happy.

Bagaimana dengan si penjaga hutan? Ini juga termasuk homo sapiens. Hanya jenisnya homo apes! Apes karena tidak bisa berbuat banyak untuk tetap tegaknya pohon-pohon. Dulu agak lumayan, punya pistol dua. Yang satu bisa dipakai untuk membuat keder si perusak hutan. Tapi itu dulu! Sekarang, apes seapes-apesnya.

Pistolnya berkurang satu, temannya tak pernah bertambah. Bukannya tidak bisa berteman. Tapi lagi-lagi, sebagian teman-temannya ketiban apes plus. Ketiban pekerjaan yang lain. Kalau malam memang ada di samping, jadi teman gigitan nyamuk, tapi siangnya pamit mau pasang acir.

Tetap semangat! Allah SWT tidak akan membiarkan makhluknya yang konsisten dan tawakal mencari rahmat-Nya.

Halaman 1 dari 1712345...10...Terakhir »