Home » Opini » Banjir, sampah plastik dan istana

Banjir, sampah plastik dan istana

Lupakan sejenak peristiwa-peristiwa politik pada awal tahun politik ini, serta lupakan pula untuk sementara kasus-kasus korupsi yang mengharu biru negeri ini.  Perhatian saat sekarang ini tertuju kepada bencana banjir.

Air menggenang, mulai setinggi mata kaki, setinggi lutut, terus setinggi pinggang, dada dan seterusnya sampai menyentuh atap-atap rumah dan menenggelamkan kendaraan. Tidak tanggung-tanggung, yang dilanda adalah ibukota negeri ini. Jalan-jalan ibukota tergenang air, bahkan sampai ke istana negara.

Semua orang pasti sudah tahu darimana asalnya banjir. Curah hujan tinggi dan dengan waktu yang relatif lama bisa menjadi malapetaka yang bisa menyebabkan korban jiwa, kemacetan, kerusakan infrasruktur dan kekesalan semua orang. Tapi hujan adalah fenomena alam yang sejatinya juga untuk kelangsungan kehidupan segenap makhluk. Namun bila manusia sudah tidak mempedulikan keseimbangan lingkungan serta menjaga harmoni alam maka hujan bisa berubah menjadi pemicu banjir yang datang tanpa dikehendaki.

Penyebabnya antara lain adalah berkurangnya wilayah resapan air dan vegetasi penahan laju limpasan hujan. Bukit-bukit menjadi sasaran perumahan dan villa. Hutan dirusak, dirambah dan digarap. Belum cukup dengan itu, sampah-sampah dibuang sembarangan. Sudah seringkali, menyaksikan lemparan sampah dari dalam mobil di jalan-jalan. Dan itu tidak mengenal kelas masyarakat. Lemparan sampah itu bisa berasal dari sebuah mobil bagus dan mengkilap!  Jadi berpikir betapa joroknya masyarakat negeri ini bila sudah keluar dari rumahnya, meski status sosialnya sudah lebih baik dari masyarakat yang tinggal dan hidup di pemukiman kumuh dan kotor! Berharap polisi bisa menilang para pelempar sampah di jalanan.

Sampah-sampah itu sedikit demi sedikit menjadi bertumpuk dan memenuhi saluran pembuangan air. Terutama plastik, yang tidak bisa terurai. Tumpukan plastik yang dibuang sembarangan bisa menjadi jaring penyumbat aliran air. Air tertahan dan meluber ke jalanan, ke kampung-kampung, pemukiman, perkantoran, bahkan istana.  Sepertinya benar-benar menjengkelkan saat melihat tumpukan plastik warna-warni dalam keadaan kusut tersebar di mana-mana. Sama menjengkelkannya setiap berbelanja selalu dibungkuskan dengan plastik. Walau hanya untuk belanja 1 bungkus coklat saja!

Sampai saat ini belum terlihat gregetnya Pemerintah untuk mengurangi penggunaan plastik di negeri ini. Di jalan-jalan melulu penuh dengan spanduk-spanduk dan banner-banner polusi visual atraksi politik. Sedangkan himbauan dan anjuran pengurangan penggunaan plastik entah kapan dikampanyekan.

Kementerian Lingkungan Hidup, bagaimana pendapatmu tentang penggunaan plastik ini? Tidak mau ambil pusingkah? Kalau tidak salah, IPB sudah mencoba mengembangkan pembuatan plastik yang ramah lingkungan. Plastik yang bisa terurai! Namun sampai saat ini, tidak terdengar gaungnya lagi.

Semestinya penggunaan plastik, terutama kantong-kantong plastik, bisa dikendalikan. Jangan sampai bumi dan tanah di negeri ini bertambah lapisannya dengan lapisan plastik! Kalau sudah begini, limpasan air tidak akan meresap dan surut ke dalam tanah! Banjir akan menjadi pemandangan rutin di istana saat musim hujan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Share this post: Share this post with the world.
  • TimesURL
  • Gatorpeeps
  • Muti
  • Twitter
  • Posterous
  • Facebook
  • laaik.it

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

[+] Zaazu Emoticons Zaazu.com