Home » Opini » Bekerja sambil berpolitik atau berpolitik sambil bekerja?

Bekerja sambil berpolitik atau berpolitik sambil bekerja?

Bekerja dan berpolitik merupakan dua buah kata yang memiliki kandungan yang sama. Mengandung terdapatnya aktifitas atau kegiatan. Yaitu aktifitas atau kegiatan yang menurut ilmu manajemen merupakan pengelolaan 5 M untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Kelima M itu adalah manusia, uang atau money, metoda atau cara, material atau bahan, serta yang terakhir adalah modal itu sendiri (kalau tidak salah!).

Bisakah keduanya digabungkan? Jelas sangat bisa. Saat seseorang bekerja sebagai karyawan bisa saja dia merangkap menjadi pengurus atau kader sebuah partai politik. Entah sepengetahuan perusahaannya atau tidak. Demikian pula seorang pengurus atau kader partai bisa jadi adalah para pekerja, atau yang banyak saat sekarang adalah para pengusaha.

Sebenarnya yang ingin dibahas di sini adalah bekerja sambil berpolitik atau sebaliknya berpolitik sambil bekerja dalam suatu perusahaan. Kalau berpolitik sambil bekerja dalam sebuah partai politik, itu sudah tidak perlu dibahas karena adalah hak setiap orang  untuk bekerja.

Perusahaan adalah organisasi bisnis yang mengelola 5 M tadi untuk mencapai tujuan perusahaan, yang pada dasarnya adalah mencetak keuntungan. Organ perusahaan terdiri dari karyawan dengan struktur organisasinya. Guna berjalannya roda usaha, sebuah perusahaan jelas membutuhkan organisasi.

Dalam sebuah perusahaan besar kita jumpai tidak hanya organisasi perusahaan saja, tetapi ada pula organisasi atau institusi semacam serikat-serikat karyawan. Inilah yang kadang menjadi pangkal persoalan. Bila terbentuknya serikat-serikat karyawan itu memang murni untuk menjadi wadah guna memajukan karyawan dan perusahaannya, tidaklah menjadi persoalan. Tetapi lain halnya bila serikat itu menjadi bagian dari perjuangan kepentingan, entah itu kepentingan pribadi, golongan atau kelompok tertentu, maka akan mulailah terjadi pengendapan menjadi politik kepentingan pribadi atau kelompok dalam sebuah perusahaan, bahkan bisa lebih parah menjadi politik sektarian di dalam perusahaan. Berkemungkinan besar, pengambilan keputusan manajemen perusahaan bisa tersandera oleh politik kepentingan, terutama dalam hal pengembangan karir atau promosi karyawannya.

Hal yang paling menyesakkan adalah bila dalam sebuah perusahaan masih sangat kental dengan ego kelompok, seolah-olah perusahaan itu adalah milik kelompok tertentu. Sehingga terkadang karyawannya seperti dipaksa untuk digiring untuk mendukung kelompok tertentu.  Kalau sudah begini, bekerja sambil berpolitik menjadi kontraproduktif untuk terwujudnya perubahan menjadi perusahaan yang maju, yang dalam pengembangan sumberdaya manusianya didasarkan kepada kinerja, kompetensi dan professionalisme.  Yang menjadi prioritas sing penting dari kelompoknya, tak soal meski kinerjanya jeblok.

 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Share this post: Share this post with the world.
  • TimesURL
  • Gatorpeeps
  • Muti
  • Twitter
  • Posterous
  • Facebook
  • laaik.it

Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

[+] Zaazu Emoticons Zaazu.com