Home » Opini » Desa hutan jati, bisakah menuju mukti?

Desa hutan jati, bisakah menuju mukti?

Desa hutan jati merujuk kepada desa-desa yang berada di sekitar hutan jati. Tipikalnya sama, jalan-jalan desa berbatu bahkan hanya berupa tanah, hanya sebagian kecil saja yang berlapis aspal. Rumah-rumah papan beralas tanah, lagi-lagi hanya sebagian kecil saja yang berupa bangunan permanen dengan lantai keramik. Bau kotoran hewan tercium khas menyengat hidung menjadi penanda desa.

Sore menjelang malam hari sampai dengan tibanya waktu membaringkan badan memejamkan mata, kelompok-kelompok warga berkumpul di warung-warung atau di halaman-halaman rumah, hanya sebagian kecil saja, warga desa yang betah berlama-lama berada di depan tv. Lebih senang menghabiskan sebagian waktu malam hari untuk bertemu dan berkumpul dengan warga lain. Meski sekedar duduk-duduk sambil menghisap rokok. Begitulah dari hari ke hari. Tentram dengan segala kekurangan dan kesederhanaannya.

Bila jatuh musim kemarau, dominasi warna kuning coklat dan kering mewarnai sawah dan ladang. Karena sulitnya mendapatkan air, sawah dan ladang itu tak bisa memberikan lebih banyak lagi pada musim kemarau. Hanya di musim hujanlah, sawah dan ladang melimpahkan karunianya dengan hasil panen padi, jagung atau ketela. Sebagian warga beruntung punya sapi dan kambing sebagai harta yang cukup bernilai bagi masyarakat desa hutan.

Tak jauh dari desa, hutan jati telah menjadi halaman belakang yang luas melengkapi lingkungan desa. Tempat bermain warga masa kecil, mencari burung atau sekedar menghabiskan waktu berjalan-jalan dalam hutan. Pertalian antara desa dan hutan jati dari dulu dan hingga kini ditandai oleh adanya kayu bakar, daun jati, serta empon-empon yang mengalir dari hutan, masuk dapur rumah-rumah warga desa hutan. Bahkan bisa jadi rumah-rumah papan itu sebagiannya dibangun dari kayu hutan. Kebalikannya, sapi dan kambing beriringan pada waktunya, sore sampai menjelang matahari terbenam, masuk hutan, menyeruak diantara tanaman-tanaman jati memamah rumput yang tumbuh liar di hutan.

Kini, halaman belakang yang luas itu sebagian besarnya sudah berubah. Dulu gelap dan angker, sekarang terik dan kering. Jati tua yang tumbuh tegak ke langit, digantikan oleh jati-jati muda yang belum mampu meneduhi sekitarnya, hanya tinggal sisa-sisa jati tua yang berharap untuk tetap berdiri kokoh sampai tiba waktunya dipanen sang pemiliknya.

Sampai kini, pertalian itu masih berlangsung, kayu bakar dan ladang penggembalaan masih menjadi tanda kehidupan, terikatnya warga desa dengan halaman belakangnya, hamparan hutan jati. Kayu bakar tidak lagi menunggu jatuhnya ranting tertiup angin. Jati-jati tua yang menjatuhkan ranting-ranting kering sudah banyak berkurang jumlahnya, digantikan oleh jati-jati muda yang cabang-cabangnya belum bisa diharap menjadi kayu bakar. Diam-diam batang-batang pohon jati-jati muda itu bisa tandas menjadi kayu bakar. Akankah jati-jati muda di halaman belakang desa nan luas itu mampu bertahan sampai saatnya menjadi kokoh dan besar?

Sawah dan ladang sudah semakin berat menanggung beban, dan bisa jadi sudah melampaui batas kesanggupannya untuk menghidupi warga desa hutan yang semakin bertambah. Bila tidak ada pilihan lain, halaman belakang yang dahulu sekedar tempat bermain, bisa menjadi tempat untuk menyalurkan hasrat kehidupan untuk memenuhi kebutuhan perut warga desa hutan. Sebagian warga bisa beralih menjadi hama perusak berwujud manusia yang akan menghancurkan tumbuh kembangnya hutan jati di halaman belakang. Bisa berakhir menjadi keributan dengan sang pemilik, yang dapat berujung kepada aniaya dan penjara. Akankah sisa-sisa jati tua itu akan bertahan tetap kokoh berdiri?

Rakyat mukti, hutan lestari, mana yang lebih dulu? Rakyat mukti kemudian baru bisa didapati hutan lestari ataukah sebaliknya? Sepertinya tidak ada gunanya memikirkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini. Bisa membuat pusing tujuh keliling, bak mencari jawaban ; mana yang lebih dulu, ayam atau telur? Pertanyaan-pertanyaan itu lebih baik diganti menjadi ; bagaimana menjadikan rakyat, khususnya rakyat desa hutan, menjadi mukti dan bagaimana pula menjadikan hutan bisa lestari?

Bagaimana agar hutan bisa menjadi lestari, biarlah itu menjadi urusannya sang pemilik, tapi bagaimana menjadikan rakyat desa hutan mukti? Semata-mata urusan sang pemilik hutankah? Mudah-mudahan saja, mewujudkan rakyat desa hutan mukti sudah menjadi kisi-kisi amanah yang harus dilaksanakan oleh segenap pemangku kepentingan. Sehingga sawah dan ladang bisa tetap mengalirkan karunianya tidak hanya di musim hujan, dan warga desa hutan bisa memiliki banyak pilihan untuk mengepulkan dapurnya. Baik pilihan cara memperoleh isi periuk nasi maupun pilihan cara memasak periuk nasinya, tidak semata-mata mengandalkan kayu bakar dari hutan.  Berkurang gerak dan nafsunya untuk menjadi hama perusak hutan. Hutan pun bisa tetap berdiri tegak dan lestari. Semoga saja!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Share this post: Share this post with the world.
  • TimesURL
  • Gatorpeeps
  • Muti
  • Twitter
  • Posterous
  • Facebook
  • laaik.it

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

[+] Zaazu Emoticons Zaazu.com