Home » Kehidupan » Episode rumah tangga Neneng

Episode rumah tangga Neneng

Neneng Sri Wahyuni, dia bukan bakul penjual jamu atau penyanyi dangdut lokal, tetapi seorang istri elit politik yang sempat pergi berkelana melanglangbuana ke berbagai negeri untuk menghindari hiruk pikuk persoalan yang menimpa suaminya.

Aneh juga, seorang istri yang sudah selayaknya mendampingi dan memberikan dorongan kepada sang suami, tatkala sang suami tersandung hiruk pikuk persoalan, tak kunjung datang terlihat menyambangi suaminya. Ataukah memang, sang suami yang sayang dan berkorban untuk istri, meminta sang istri terbang jauh meninggalkan kandangnya. Tidak rela sang istri tercatut hiruk pikuk persoalan yang menimpanya. Tapi tetap pertanyaan yang tak bisa dibendung itu muncul. Apa yang lebih engkau sayangi, Neneng? Suami atau ada yang lain yang lebih engkau sayangi, yang jauh lebih ingin engkau lindungi? Atau rasa takutkah yang menyebabkan engkau terbang jauh, membiarkan sang suami menghadapi hari-harinya dalam hiruk pikuk persoalan?

Ikrar janji sehidup semati, bersama dalam suka dan duka, dalam romantika kehidupan sebuah pasangan, nampaknya sudah tidak bermakna saat konsumerisme dan hedonisme merengkuh sekat-sekat rumah tangga. Romantika rumah tangga yang memasuki episode ada uang abang sayang, tidak ada uang abang ditendang. Tapi sesederhana itukah episode yang sedang dilakonkan oleh seorang Neneng?

Seperti bangau yang terbang akhirnya pulang jua kembali ke kandang, Neneng akhirnya kembali. Bukan kembali dengan disambut rindu sanak keluarga, tetapi kembali untuk disambut ciduk oleh KPK. Ternyata, Neneng tidak sedang melakonkan episode ada uang abang sayang, tidak ada uang abang ditendang. Tidak sesederhana itu! KPK-lah yang meminta pertanggungjawabannya, bukan KUA, mertua atau pak RT. Dia telah disangka KPK sebagai salah satu pemeran yang melakonkan benang kusut kisruh korupsi politik dan menggelandangnya memasuki ruang penahanan menyusul suaminya, yang sudah terlebih dahulu digelandang. Memasuki babak roman rumah tangga, senasib sepenanggungan, bersama dalam suka dan duka bersama suaminya, dalam ruang tahanan.

Bak sebuah film thriller, Neneng tidaklah sekedar sedang melakonkan episode pembuka cerita, ada uang abang sayang, tidak ada uang abang ditendang, namun sudah memasuki episode yang jauh lebih rumit, lebih misterius, lebih berbahaya, lebih penuh intrik dan lebih luas cakupannya, tidak hanya sekedar berada dalam ruang yang dibatasi oleh sekat-sekat rumah tangga, sebagaimana dalam episode ada uang abang sayang tidak ada uang abang ditendang itu.

Tidak lagi sekedar konsumerisme dan hedonisme yang menjadi intrik alur cerita, tapi nafsu kekuasaan yang koruptif itulah yang nampaknya menjadi kunci intrik dalam episode yang dilakonkan seorang Neneng. Episode yang sudah mencapai tingkatan sebuah mahakarya yang bernama skandal. Skandal berlatar demokrasi politik kapital. Episode mahakarya ada uang abang berkuasa, tidak ada uang abang lebih baik jadi rakyat jelata saja! Oh .. nasib!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Share this post: Share this post with the world.
  • TimesURL
  • Gatorpeeps
  • Muti
  • Twitter
  • Posterous
  • Facebook
  • laaik.it

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

[+] Zaazu Emoticons Zaazu.com