Home » Opini » Feodalisme perlu dihardik

Feodalisme perlu dihardik

Tadinya dipikir masalah feodalisme di negeri ini sudah tidak banyak dibicarakan lagi.  Masyarakat sudah merasa bosan membicarakannya karena memang masalah feodalisme adalah suatu kenyataan yang tidak bisa dipisahkan dari sistem budaya bangsa ini.  Susah alias sulit dihapuskan.  Meski banyak orang mengakui feodalisme mengandung sisi buruk yang dapat menghambat kemajuan peradaban bangsa ini untuk menjadi bangsa yang demokratis, namun pada kenyataannya feodalisme ini masih tetap terpelihara dan para pejabat/penguasa diam-diam menikmati keistimewaan dengan memanfatkan, sengaja atau tidak, budaya feodalisme.  Untunglah masih ada orang yang memiliki perhatian terhadap masalah feodalisme ini sebagaimana Jakob Oetama.

Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama menilai berbagai persoalan yang mendera bangsa ini tidak lepas dari pengaruh paham feodalisme yang masih begitu melekat di sebagian besar masyarakat. Dalam paham feodalisme, penyimpangan yang kerap terjadi merupakan penyalahgunaan kekuasaan. “Penyalahgunaan kekuasaan, terutama korupsi, masih sangat merajalela. Bukannya berkurang, tetapi malah justru menguat” (Kompas Minggu 9 Mei 2010).

Ia menjelaskan, salah satu akar utama dari penyalahgunaan itu adalah sistem feodalisme. Dalam sistem feodalisme itu, otomatis siapa saja yang memiliki kekuasaan menjadi merasa memiliki hak-hak khusus. “Salah satu sumber penyebabnya adalah struktur masyarakat dan paham kita yang masih feodal. Dalam sistem feodal, jika kita punya kekuasaan, kita juga merasa punya hak-hak tersendiri. Salah satu ekspresinya melalui penyalahgunaan wewenang,” ungkapnya.

Ia menegaskan, untuk dapat membangun bangsa dengan lebih baik ke depannya, maka proses reformasi masih perlu untuk terus didorong. Perlu ada sikap saling kontrol, dari masyarakat ke pemerintah. “Reformasi harus jalan terus. Lembaga-lembaga formal harus didukung lembaga yang aktif di masyarakat. Dihardik, bila perlu,” ujarnya.

Lumayan keras juga penyataan pak Jakob Oetama ini.  Kalau demikian, bila suatu saat di tengah-tengah kemacetan, tiba-tiba ada konvoi pejabat, sipil atau militer, maka sudah tidak jamannya lagi kita menyingkir memberikan jalan dan mendahulukan pejabat.  Biar mereka pun ikut merasakan kemacetan yang dirasakan oleh rakyatnya!  Rasulullah s.a.w. pun kalau terlambat datang di mesjid, mengambil tempat di belakang, tidak ingin meminta tempat yang paling depan!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Share this post: Share this post with the world.
  • TimesURL
  • Gatorpeeps
  • Muti
  • Twitter
  • Posterous
  • Facebook
  • laaik.it

Tags: , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

[+] Zaazu Emoticons Zaazu.com