Home » Campursari » Gedongsongo

Gedongsongo

Sudah hampir  14 tahun menetap di Semarang, namun belum pernah sekalipun berkunjung ke Gedongsongo,  sebuah tempat kumpulan candi-candi kecil peninggalan jaman kerajaan.  Padahal dari Semarang hanya berjarak kurang lebih 1 jam perjalanan, itu pun melewati tempat wisata yang cukup terkenal bagi warga Semarang, yaitu Bandungan, yang sebenanya sudah sering saya kunjungi, dan dari Bandungan ke Gedongsongo hanya butuh waktu lebih kurang seperempat jam perjalanan.  Bandungan bagi warga Semarang ibarat warga kota Jakarta mendatangi kawasan Puncak Cianjur-Bogor.  Bernuansa alam pegunungan dan berhawa sejuk seperti halnya kawasan Puncak, hanya tidak dijumpai perkebunan teh. Yang dominan di sini adalah hotel-hotel untuk keperluan rapat, kolam-kolam pancing serta sebuah pasar yang banyak menjajakan hasil-hasil bumi wilayah setempat.

Bagaimana dengan Gedongsongo dan candi-candinya? Sedikit uraian tentang Gedongsongo dari Wikipedia menerangkan bahwa Candi Gedong Songo adalah nama sebuah komplek bangunan candi peninggalan budaya Hindu yang terletak di Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Indonesia tepatnya di lereng Gunung Ungaran.  Di kompleks candi ini terdapat sembilan buah candi.

Candi ini diketemukan oleh Raffles pada tahun 1804 dan merupakan peninggalan budaya Hindu dari zaman Wangsa Syailendra abad ke-9 (tahun 927 masehi). Candi ini memiliki persamaan dengan kompleks Candi Dieng di Wonosobo. Terletak pada ketinggian sekitar 1.200 m di atas permukaan laut sehingga suhu udara disini cukup dingin (berkisar antara 19-27 °C). Lokasi 9 candi yang tersebar di lereng Gunung Ungaran ini memiliki pemandangan alam yang indah, sehingga dinamakan Gedongsongo. Gedong artinya bangunan, sedangkan songo  artinya sembilan. Di sekitar lokasi juga terdapat hutan pinus yang tertata rapi serta mata air yang mengandung belerang.

Gambaran dari Wikipedia ini tidak jauh dari gambaran yang sebenarnya.  Untuk menuju komplek candi ini, harus mendaki jalan aspal yang cukup mulus, yang hanya bisa dilalui kendaraan kecil.  Kendaraan besar seperti bus dipastikan akan mengalami kesulitan dengan cukup kecilnya lebar jalan serta kelerengan jalan yang cukup tinggi.  Lokasi candi-candi berada di pegunungan, di punggung-punggung bukit, dengan udara dingin dan seringkali tertutup kabut. Candi-candinya sendiri tersebar dan untuk mencapainya terdapat dua pilihan yaitu jalan kaki melalui jalan setapak yang sudah dibuat atau menunggang kuda yang banyak tersedia. Tentunya bayar, tidak ada yang gratis di lokasi wisata!

Berjalan kaki dari candi ke candi dengan kondisi jalan yang naik turun yang cukup terjal, sudah lebih dari cukup untuk membuat nafas ngos-ngosan.  Suasana di sekitar candi memiliki panorama alam yang cukup menarik. Candi-candi di Gedongsongo sebenarnya tidak begitu menonjol dibandingkan dengan Candi Borobudur atau Prambanan misalnya. Bangunannya kecil-kecil, tinggi maksimal 9 m dan lebar maksimal 8 m.  Namun, menurut seorang pakar spiritual dari Australia (saya lupa namanya), lokasi tempat candi-candi ini memiliki bioenegeri yang terbaik di Asia.  Mengalahkan Tibet di negeri China.   Oleh karena itu, di sini sangat cocok untuk menjadi tempat olah spiritual seperti bertapa, meditasi, dan yoga, yang bisa juga dimanfaatkan untuk kesehatan.  Kesehatan mental dan tubuh.  Hm…. mudah-mudahan saja, badan ini kerasukan gelombang dari medan bioenergi alam Gedongsongo, supaya badan tetap sehat.  Amin!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Share this post: Share this post with the world.
  • TimesURL
  • Gatorpeeps
  • Muti
  • Twitter
  • Posterous
  • Facebook
  • laaik.it

Tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

[+] Zaazu Emoticons Zaazu.com