Home » Opini » Histeria ujian nasional

Histeria ujian nasional

Sungguh kasihan menyaksikan anak-anak sekolah yang tidak lulus ujian, stress, pingsan bahkan ada mencoba untuk bunuh diri. Dunia seolah-olah mau kiamat tatkala mengetahui bahwa mereka dinyatakan tidak lulus ujian nasional.

Salah satu penyebab terjadinya keadaan histeria yang dialami anak-anak yang tidak lulus ujian ini adalah pengambilan sikap yang terlalu berlebihan terhadap  penilaian keberhasilan pendidikan yang hanya didasarkan kepada angka-angka hasil ujian nasional.

Kelulusan dari menjalani bertahun-tahun masa pendidikan  yang hanya didasarkan kepada nilai ujian yang berlangsung beberapa hari,  bisa jadi telah menanamkan suatu dogma kepada anak-anak sekolah bahwa keberhasilan hidup  sangat ditentukan oleh angka-angka hasil ujian.  Maka saat diumumkan kelulusan  hasil ujian nasional, yang lulus akan bersorak berloncatan gembira dengan kelulusannya, dan yang tidak lulus menjadi stress, pingsan, bahkan sampai ada yang mencoba bunuh diri, dan merembet kepada orangtuanya, yang emosi dan melampiaskan kemarahannya dengan mengamuk merusak sekolah tempat anaknya belajar.

Dalam dunia nyata di luar lingkungan anak-anak sekolah,  tidaklah  benar-benar berbanding lurus keberhasilan hidup seseorang  dengan keberhasilannya dalam menjalani pendidikan di sekolah.  Sudah banyak contoh dan tidak terhitung jumlahnya orang-orang yang waktu sekolahnya biasa-biasa saja, namun berhasil dalam dunia kerja dan bahkan seorang  yang hanya lulusan  SD  bisa saja  menciptakan lapangan kerja bagi banyak sarjana.

Tengoklah negeri ini, pemimpin-pemimpin  negeri ini bukanlah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka adalah orang-orang yang dulu jempolan dan piawai menjawab soal-soal ujian dan lulusan universitas-universitas terbaik negeri ini, tetapi bisa dilihat sendiri, negeri ini sudah tertinggal dengan negara-negara tetangganya.  Tetapi menduduki tempat terhormat dalam hal korupsi dan kolusi.

Bukannya tidak setuju dengan ujian nasional, tetapi yang tidak setuju adalah berlebihannya sikap terhadap keberhasilan seorang anak peserta didik yang hanya semata-mata didasarkan kepada hasil ujian nasional.  Pendidikan hendaknya memberikan pemahaman  yang lebih baik kepada peserta didik, bahwa banyak faktor yang menentukan keberhasilan seseorang di dalam hidupnya.  Kerja keras, kejujuran, ketekunan, moralitas, kreatifitas, dan empati adalah sebagian hal yang sangat diperlukan untuk membawa seseorang berharga bagi dirinya dan bagi lingkungannya, tidak semata-mata pintar menjawab soal-soal ujian.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Share this post: Share this post with the world.
  • TimesURL
  • Gatorpeeps
  • Muti
  • Twitter
  • Posterous
  • Facebook
  • laaik.it

Tags: , , ,

2 Responses to Histeria ujian nasional

  1. Benar, kebanyakan orang hanya “pandai” dalam menjawab soal-soal ujian ketimbang soal-soal kehidupan.

    padahal, tujuan pendidikan formal yang sesungguhnya adalah agar para siswa mampu menjawab soal-soal kehidupan pada suatu saat nanti, dan bukan hanya soal-soal ujian saja. :2:

    Saya pernah dapat nilai 3 di raport, 2x gagal UMPTN, dan … setumpuk kegagalan lainnya. Tapi, ya… seperti kata iklan, “Enjoy Aja!”, kemudian… “Bebaskan Ekspresimu!”

    Intinya adalah, tak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri bila kesempatan masih ada.

    Salam.

  2. Luar biasa Mas Amir, saya sepatutnya menyampaikan selamat atas setumpuk kegagalan yang telah Anda alami. Kegagalan yang melahirkan semangat pantang menyerah dari diri Anda. Sekali lagi, selamat…! Semoga Anda selamanya bisa enjoy dan berekspresi sebebas-bebasnya. Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

[+] Zaazu Emoticons Zaazu.com