Home » Opini » Luluslah kamu, kucoreti baju seragam putihmu!

Luluslah kamu, kucoreti baju seragam putihmu!

Seperti biasanya, untuk merayakan kelulusan setelah menjalani pendidikan di SMA, anak-anak sekolah bergembira dengan saling merelakan seragamnya untuk dicorat-coret bahkan dilumuri dengan cat semprot. Jadilah baju seragam yang bisa jadi merupakan hasil jerih payah orangtuanya, bahkan berhutang sana-sini, menjadi barang yang dianggap sudah tidak berguna lagi, belepotan dan kotor.

Baju seragam putih yang tadinya menjadi pertanda eksistensi dunia anak sekolah dicampakkan begitu saja, kotor belepotan dicorat-coret dan disemprot, sebagiannya mungkin saja ada yang sengaja dirobek-robek.

Sudah puluhan tahun, kebiasaan ini menjadi tradisi kelulusan anak-anak SMA di hampir seluruh penjuru negeri di sini. Bagaimana dengan negeri lain? Entahlah, sampai saat ini belum pernah tinggal bahkan meski hanya sekedar melancong ke luar negeri.

Kebiasaan mencoreti dan menyemprot baju seragam putih yang dilakukan oleh anak-anak sekolah usai dinyatakan lulus, dan berubahnya baju putih bersih menjadi kotor belepotan dicorat-coret serta disemprot, sepertinya menjadi penanda zaman yang menjadi petunjuk tidak kasat mata tentang apa yang akan mereka hadapi dan yang akan terjadi di negeri ini setelah mereka memasuki dunia kerja atau dunia politik.

Baju putih itu simbol kebersihan, kejujuran dan kepolosan, dan bersih, jujur serta polos itu nampaknya hanya norma yang berlaku saat kita menjalani pendidikan. Saat usai sekolah atau pendidikan, maka jangan harap baju putih itu tetap putih. Coretan dan semprotan melumuri kebersihan, kepolosan dan kejujuran yang menjadi pesan moral baju seragam putih saat pendidikan. Sepertinya mereka berwasiat bersiaplah untuk menanggalkan kebersihan, kepolosan dan kejujuran. Begitu masuk dunia kerja atau dunia politik, maka bersiap-siaplah untuk menjadi kotor, koruptif, manipulatif, serakah dan bermental aji mumpung.

Ramai-ramai anak-anak sekolah itu saling coret-coret dan semprot baju seragamnya masing-masing. Tidak peduli bila ada sebagiannya yang tidak suka baju seragamnya menjadi kotor. Bila tidak mau dicorat-coret dan disemprot baju seragamnya, jangan harap besok menjadi teman. Bila besok tidak mau korupsi, manipulasi, bohong dan rakus, jangan harap menjadi teman serta mendapat bagian jabatan, kursi atau kedudukan.

Jadi ingat waktu dulu selesai menerima kelulusan sekolah SMA, baju seragam putih itu pun tak luput dari coreng-moreng. Sekarang setelah puluhan tahun berlalu, sepertinya coreng-moreng itu masih melekat. Melekat dalam kehidupan kita sehari-hari, dalam berbangsa dan bernegara di seluruh penjuru negeri ini.

Pemimpin-pemimpin dan pejabat negeri ini sudah menanggalkan baju seragam putih sekolah, mencampakkan norma-norma yang diberikan saat pendidikan. Ini yang menjadikan sang Ketua DPR angkat suara. Tapi kenyataan dan fakta yang ada rupanya menunjukkan kaum terpelajar itu tetap tidak mau terima. Tidak mau terima kalau kondisi mental bangsa dan negara ini disebabkan oleh perbuatan dan warisan para alumninya. Benar-benar membingungkan, semestinya kita semua berkaca, berkontemplasi akankah kebiasaan coret-coret mengotori baju seragam putih sekolah terus menerus menjadi penanda dan pembawa pesan ke depan tentang mental dan sikap generasi selanjutnya?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Share this post: Share this post with the world.
  • TimesURL
  • Gatorpeeps
  • Muti
  • Twitter
  • Posterous
  • Facebook
  • laaik.it

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

[+] Zaazu Emoticons Zaazu.com