Home » Kehidupan » Marjinalnya masyarakat desa hutan, antara empati dan tegaknya hukum.

Marjinalnya masyarakat desa hutan, antara empati dan tegaknya hukum.

Bekerja menjaga hutan yang dikelilingi oleh masyarakat dengan kondisi tingkat kehidupan yang masih marjinal, dengan kemiskinan dan keterbatasan akses terhadap pendidikan serta pekerjaan yang menjadi cirinya, tidak bisa tidak, terkadang membangkitkan rasa sesak bagi si penjaga hutan. Marjinalnya masyarakat di sekeliling hutan dengan kemiskinan yang mencirikannya merupakan sinyal-sinyal yang akan mengancam keutuhan hutan yang harus dijaganya.

Saat kebutuhan hidup tidak bisa ditawar, dan sumberdaya yang lain sudah tidak mampu mencukupi, warga miskin desa sekitar hutan dipastikan akan melirik hutan dan membawa yang bisa diambil dari dalam hutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bentangan hutan yang cukup luas dan pohon-pohon yang bisa dengan mudah ditukar dengan lembaran rupiah, menggoda hasrat warga miskin desa hutan, menunggu celah lalainya si penjaga hutan. Diam-diam pohon pun ditebas dan batangnya dibawa sebagai barang berharga untuk ditukar dengan lembaran rupiah, untuk kemudian berganti menjadi penebus lapar bagi dirinya dan anak istrinya.

Namun saat si penjaga hutan waspada dan tangkas menyergap, yang terjadi kemudian adalah keributan. Keributan antara warga miskin desa hutan dengan si penjaga hutan. Warga miskin desa hutan yang sudah menjalani takdirnya bernasib marjinal dan terkena naas tersandung keributan di dalam hutan, kini menjadi musuh bagi si penjaga hutan. Musuh yang sudah selayaknya mendapat rasa iba dan kasihan. Tetapi menuruti kata hati dengan rasa iba dan kasihan terhadap warga miskin desa hutan yang tersandung, dan berempati membiarkan mereka berbuat sesuka hati di dalam hutan, menebas pohon meski hanya untuk sekedar menebus lapar, akan berarti semakin terancamnya keutuhan hutan itu sendiri.

Demikianlah saat panggilan tugas ditunaikan, saat hukum dan aturan menjadi panglima, keributan bisa berakhir penjara bagi warga miskin desa hutan. Jadilah mereka menjadi musuh yang sebenar-benarnya musuh yang patut mendapat empati. Musuh yang sudah tak berdaya. Dipenjara akibat ulahnya mengusik si penjaga hutan, mencederai keutuhan hutan, dengan meninggalkan anak istri yang entah siapa yang akan menebus laparnya mereka kemudian. Melewati sebagian waktunya meringkuk di balik dinding penjara tanpa harta yang bisa ditinggalkannya, untuk sekedar penyambung hidup bagi anak istrinya. Tapi hukum tidak mengenal kasihan! Si penjaga hutan pun sesak dadanya! Semoga saja kemakmuran bisa segera datang, dan hasrat warga miskin desa hutan mencederai keutuhan hutan, yang bisa berakhir keributan dengan si penjaga hutan, tidak kerap terjadi lagi.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Share this post: Share this post with the world.
  • TimesURL
  • Gatorpeeps
  • Muti
  • Twitter
  • Posterous
  • Facebook
  • laaik.it

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

[+] Zaazu Emoticons Zaazu.com