Home » Opini » Minimarket vs warung tradisional

Minimarket vs warung tradisional

Minimarket saat ini menjadi sebuah bisnis waralaba yang tidak hanya beroperasi di kota-kota besar, tetapi merambah ke kota-kota kecil bahkan sampai ke lokasi pemukiman. Minimarket semacam Indomaret atau Alfamart saat ini dimana-mana mudah dijumpai. Di sekitar tempat tinggalku saja, dalam jangkauan radius kurang lebih 2 Km, diperkirakan ada 8 minimarket.  Jumlah ini kemungkinan bisa bertambah dengan semakin ramainya pemukiman penduduk.  Bagaimana dengan warung tradisional? Masih ada, tetapi nampaknya semakin terdesak.  Warung tradisional sudah tidak lagi menjadi pilihan untuk membeli barang kebutuhan sehari-hari.

Bila dibuat perbandingan antara minimarket dan warung tradisional dengan melihat aspek-aspek suasana belanja, pelayanan, harga, dan jenis barang yang dijual, barangkali gambarannya adalah seperti ini :

Suasana belanja :

Minimarket menawarkan suasana belanja yang nyaman, rata-rata berpendingin udara.  Kita bisa bebas memilih barang, menyentuh dan mengambilnya.  Di warung tradisional, jangan harap bisa masuk sembarangan, memilih dan mengambil barang.  Kalau tidak, bisa babak belur diteriaki maling!

Pelayanan :

Pelayanan di minimarket dikemas melalui manajemen bisnis waralaba yang professional.  Masuk belanja disambut senyum dengan ucapan ;  selamat pagi, selamat siang atau selamat malam. Terdapat petugas dengan seragam rapi siap melayani dan membantu mengangkat barang-barang belanjaan.  Sebaliknya di warung-warung  tradisional terkadang kita menemukan warung kosong tidak ditunggui.  Susah payah memanggil-manggil sang pemilik warung. Bisa jadi belanja mengganggu tidur siang pemilik warung.  Terkantuk-kantuk dengan hanya memakai kaos dalam melayani pembeli.

Jenis barang :

Segala jenis barang kebutuhan sehari-hari lengkap ada di minimarket dengan stok yang cukup banyak.  Sedangkan di  warung tradisional belum  menjamin semua jenis barang tersedia. Ada barang tetapi umumnya stoknya terbatas. Teman saya yang perokok, lebih suka membeli rokoknya di minimarket.  Bila membeli di warung tradisional, belum tentu ada merk rokok yang menjadi kesukaannya.  Kadang-kadang kesal juga,  sudah sengaja datang untuk belanja ke warung, tapi dijawab ; Wah….. barangnya tidak ada, Mas! Atau habis Mas! Buang-buang waktu saja, kalau tahu begini, lebih baik belanja di Hongkong sekalian!

Harga :

Nah ini mungkin yang paling sensitif.  Ternyata harga barang di minimarket dengan di warung tradisional tidaklah beda-beda amat. Bahkan bisa jadi harga barang di minimarket bisa lebih murah dibandingkan di warung tradisional. Belum lagi kalau sang pemilik warung tidak punya kembalian, terpaksa pontang-panting mencari penukaran uang dengan recehan.  Masih mending kalau sang pemilik warung proaktif melakukan sendiri penukaran uang, kalau tidak dia yang manyun tidak mau susah payah beranjak menukarkan uang.  Akhirnya ke warung menjadi dua kali kerja.  Belanja sekaligus menukarkan uang! Capek..deh!

Dari perbandingan itu, kalau ditanya lebih senang belanja dimana? Di minimarket atau di warung tradisional? Sudah bisa ditebak jawabannya. Selanjutnya sudah bisa diprediksikan, warung-warung tradisional yang rata-rata dimiliki oleh rakyat pemodal kecil akan semakin sulit berkembang. Bahkan ada pendapat “minimarket adalah bahaya laten yang akan membunuh perekonomian rakyat sedikit demi sedikit” .  Oleh karena itu agar warung-warung tradisional tidak mati pelan-pelan, pilihannya adalah perlindungan bagi mereka, berupa perlindungan melalui peraturan dan perijinan dari Pemerintah untuk mengatur  keberadaan minimarket sehingga tidak terkendali merambah kemana-mana.  Ataukah memang di tingkat lokal, perdagangan bebas juga menjadi sesuatu yang tidak bisa ditolak, seperti halnya perdagangan bebas di tingkat global?  Sebuah perwujudan neoliberalisme ekonomi? Bila demikian, tinggal tunggu waktu, matinya perekonomian rakyat!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Share this post: Share this post with the world.
  • TimesURL
  • Gatorpeeps
  • Muti
  • Twitter
  • Posterous
  • Facebook
  • laaik.it

Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

[+] Zaazu Emoticons Zaazu.com