Home » Opini » Mudik kali ini lebih baik?

Mudik kali ini lebih baik?

Macet dimana-mana, itu yang biasa terjadi di saat mudik menjelang tibanya hari raya Idul Fitri. Pada hari-hari itu, kemacetan yang tiap hari terjadi di kota Jakarta atau kota-kota besar lainnya, berpindah untuk sementara ke jalan-jalan ke luar kota, ke jalan-jalan menuju kampung halamannya para pendatang.

Pada saat itulah, para penduduk dapat menikmati suasana lengang kota. Bisa dinyatakan bahwa kemacetan di Jakarta atau kota-kota besar lainnya disebabkan oleh banyaknya para pendatang yang hidup dan mencari penghidupan di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Kehidupan kota-kota besar telah menjadi magnet berkembangnya urbanisasi yang memicu pertambahan penduduk oleh banyaknya para pendatang.

Saat-saat mudik, kendaraan-kendaraan yang bermuatan para pendatang dari kota-kota tumpah ruah ke jalan-jalan. Berakibat timbulnya tumpukan kendaraan. Bergerak merayap menembus ruang terbatas jalanan untuk terlaksananya niat melaksanakan perayaan hari kemenangan penutup bulan puasa di kampung halaman. Panas, lelah, ngantuk di kendaraan saat menembus kepadatan lalu lintas di jalan, tidak mampu mengalahkan hasrat dan niat untuk berlebaran, bertemu orangtua, sanak saudara, handai tolan dan tetangga tempat para pendatang dilahirkan dan dibesarkan.

Tradisi mudik sudah menjadi kultur bangsa ini. Rasanya aneh dan tidak ada gunanya saat seorang pejabat di negeri ini menghimbau agar masyarakat mengurangi perjalanan mudik saat merayakan hari raya Idul Fitri. Himbauan yang sepertinya keluar dari budaya dan tradisi yang sudah melekat dari masyarakat bangsa ini. Berlawanan dengan tradisi itu sendiri. Bertentangan dengan nuansa kerinduan untuk bertemu dan berkumpul dengan orangtua, handai tolan, kerabat, sanak saudara, apalagi di saat merayakan hari raya Idul Fitri.

Bermaaf-maafan yang menghiasi kemeriahan tibanya hari raya Idul Fitri tidak cukup sekedar mengirimkan kartu lebaran, sms atau sekedar telpon. Hari raya Idul Fitri bagi masyarakat merupakan saat-saat istimewa untuk merefleksikan permintaan maaf dengan sungkem mencium tangan orangtua di kampung dan bersentuhan fisik bersalaman dengan sanak saudara, kerabat dan tetangga. Suatu dorongan bathin yang sukar dibendung saat mudik menjelang lebaran sanggup untuk dilakukan meski dengan pengorbanan berpayah-payah menembus kemacetan di jalan.

Pernyataan yang tanpa didukung fakta, baru-baru ini diucapkan pula oleh seorang menteri yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaan transportasi di negeri ini. Suasana mudik masih berlangsung dan belum selesai, sudah mengeluarkan pernyataan bahwa transportasi mudik tahun ini lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Apanya yang lebih baik? Jalan-jalan bisa jadi beraspal lebih mulus dibanding tahun lalu, pesawat, kereta dan bus bisa jadi lebih banyak, tapi bagi pemudik bukan itu yang menjadi ukuran. Yang menjadi ukuran adalah kelancaran dan kecepatan selama di jalan menuju tempat yang dituju. Namun, seperti halnya tahun-tahun yang lalu, kemacetan tetap terjadi dimana-mana.

Tahun ini bahkan terkesan terasa lebih parah kondisinya. Jakarta-Tegal perlu waktu sehari-semalam, keluar dari kemacetan di pintu Tol Cikampek perlu waktu 4-6 jam lebih. Saya sendiri yang berangkat melawan arus mudik dari Semarang ke Bandung, terjebak kemacetan di Sumedang selama hampir 7 jam, yang belum pernah terjadi tahun-tahun sebelumnya. Belum lagi persoalan masih cukup tingginya jumlah korban kecelakaan lalu lintas selama mudik.

Tidak bermaksud terlalu menyalahkan Pemerintah, karena memang persoalan kemacetan di jalan-jalan saat mudik, lebih disebabkan oleh meningkatnya kepadatan kendaraan para pemudik secara bersamaaan di jalan-jalan. Namun yang mengusik adalah bila antara pernyataan dengan kondisi nyata di lapangan berlawanan. Pernyataan sang Menteri itu bahwa transportasi mudik tahun ini lebih baik dibanding tahun lalu, menjadi sebuah pernyataan yang tak lebih dari dongeng pengantar tidur anak-anak. Tapi memang sudah menjadi kebiasaan, pejabat di negeri ini, lebih banyak berbicara yang enak didengar dibandingkan mengakui fakta yang ada. Mungkin yang dimaksud bukan transportasi mudik yang lebih baik, tetapi kemacetan saat mudik sekarang ini memang lebih baik. Macetnya lebih lama dan lebih menyebar! Bukan begitu, Pak?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Share this post: Share this post with the world.
  • TimesURL
  • Gatorpeeps
  • Muti
  • Twitter
  • Posterous
  • Facebook
  • laaik.it

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

[+] Zaazu Emoticons Zaazu.com