Home » Opini » Negara gagal itu akibat nafsu liar kuasa dan harta

Negara gagal itu akibat nafsu liar kuasa dan harta

Beberapa waktu yang lalu, berita yang cukup menyentak menyeruak dari tulisan berita di media. Indonesia dinyatakan sebagai negara dalam bahaya (in danger), demikian menurut kesimpulan penilaian sebuah survey internasional. Sebuah kesimpulan hasil survey yang memiliki interpretasi negara ini berpeluang untuk menjadi negara gagal. Yang mengandung arti, reformasi yang telah dilalui, menutup era sebuah rezim otoriter, ternyata tidak lagi memiliki keampuhan untuk membawa negara menuju cita-cita terbentuknya negara yang kuat, sejahtera dan berkeadilan.

Sungguh tak terbayangkan, bila negara ini benar-benar menjadi sebuah negara gagal. Apa yang akan dipikirkan oleh para pendiri bangsa, yang telah mempertaruhkan jiwa raga, harta dan pikiran untuk berdiri tegaknya sebuah negara, bila pada akhirnya, setelah sekian dasa warsa, yang terjadi adalah sebuah kegagalan? Merupakan sebuah keajaiban, para pendiri bangsa mampu menyatukan banyak pulau yang terpisah-pisahkan oleh luasnya bentang lautan serta beragamnya corak dan budaya penghuninya ke dalam tekad untuk mengayuh visi bersama-sama ke dalam satu haluan negara bhineka tunggal ika. Namun keajaiban yang telah diciptakan oleh para pendiri bangsa, konon menurut hasil survey, kini menghadapi surut yang bila tidak segera disembuhkan akan menyebabkan goyahnya keutuhan negara. Terjadinya kegagalan dalam menjaga keutuhan negara yang secara ajaib telah dibangun oleh para pendiri bangsa merupakan prahara yang berarti pendurhakaan dan penistaan terhadap jerih payah para pendiri bangsa.

Reformasi yang telah berlangsung pada dasarnya berkehendak untuk membebaskan negara dari hegemoni sebuah kediktatoran, yang menelikung demokrasi dan menumbuhkembangkan KKN. Namun dalam perjalanannya, demokrasi yang telah menemukan pintu lebarnya, telah berkembang menjadi demokrasi yang dimasuki oleh merajalelanya virus hasrat terpuaskannya nafsu liar kekuasaan dan harta, yang merasuk ke segenap komponen negara. Nafsu liar kekuasaan dan harta yang telah mengaburkan nilai-nilai kejujuran dan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Inilah sebenarnya penyakit yang harus disembuhkan agar negara bisa terbebas dari lampu kuning menuju negara gagal. Penyakit yang harus disembuhkan dengan mencari obat untuk mengendalikan dan menyembuhkan segenap komponen negara dari nafsu liar kekuasaan dan harta. Obat mujarab apa yang bisa digunakan untuk mengendalikan nafsu liar kekuasaan dan harta yang merasuk ke segenap komponen negara?

Apakah diperlukan reformasi jilid kedua? Ataukah reformasi itu sendiri yang patut disalahkan karena tanpa sadar telah menjadi media berkembangbiaknya virus hasrat kebebasan akan nafsu liar kekuasaan dan harta? Sehingga tidak selayaknya berharap reformasi terulang kembali. Lantas apa yang sebaiknya harus dilakukan oleh para pemimpin dan rakyatnya untuk mengendalikan merajalelanya nafsu liar kekuasaan dan harta. Penyadaran nilai-nilai keagamaan? Pendidikan moral? Perubahan sistem politik? Tapi bukankah semua itu sebenarnya sudah dan sedang berjalan?

Ataukah memang kita selayaknya sudah harus sampai kepada kesadaran bahwa memang sudah menjadi watak bangsa ini untuk selalu merasa haus akan kekuasaan dan harta, yang keduanya saling melengkapi. Saat harta di tangan maka kekuasaan menjadi incaran, begitu sebaliknya, saat kekuasaan di tangan, harta menjadi incaran. Pada bangsa inilah terdapatnya presiden seumur hidup, yang berlanjut dengan presiden dengan lama kuasa yang sungguh menakjubkan dengan sentuhan penguasaan ekonomi negara oleh sanak keluarga dan kroninya.

Sadar akan kelemahan bahwa segala terapi tidak akan memberikan pengaruh yang nyata, penanaman nilai-nilai keagamaan, pendidikan moral, serta perubahan sistem politik. Tidaklah perlu susah payah mencari obat penyembuh bagi nafsu liar kekuasaan dan harta, hanya akan menguras tenaga dan sia-sia belaka. Itu sudah alamiah dari gerak hidup yang harus dijalani bangsa ini. Gerak hidup yang memang sudah nyata-nyata menjadi keseharian elit politik, eksekutif, dan legislatif serta rakyatnya pada saat ini. Rakyat yang juga haus harta dan kuasa, memilih dan memilah berdasarkan siapa yang bisa memberikan harta dan kuasa. Kalau demikian, negara gagal sebenarnya sudah membentuk wujudnya saat sekarang ini. Kegagalan dalam mewujudkan sistem kehidupan berbangsa dan bernegara yang bersih, jujur dan berkeadilan.

Namun sebagaimana kata orang, kegagalan adalah awal sebuah kesuksesan! Semoga saja lampu kuning sinyal negara gagal adalah awal menuju negara yang sukses. Sinyal kegagalan yang bisa menjadi pembelajaran yang dapat menumbuhkan kesadaran atas kesalahan yang telah dilakukan. Semoga segenap komponen negara, terutama para pemimpin serta para elit politik dapat segera belajar dari lampu kuning sinyal kegagalan, yang sebenarnya sudah tampak di depan mata, dengan memberikan keteladanan kepada rakyatnya. Keteladanan untuk belajar mengarahkan terbentuknya watak kesederhanaan. Sebagai obat yang niscaya akan lebih murah dan manjur untuk mengendalikan merajalelanya nafsu liar kekuasaan dan harta. Keteladanan yang dahulu sudah diberikan oleh para pendiri bangsa! Teringat kata Iwan Fals dalam sebuah lagunya tentang Bung Hatta ; jujur, lugu, bijaksana dan sederhana! Ada tekanan pada saat sampai pada bait kata sederhana. Sebuah bait nyanyian yang dilantunkan dengan nada tinggi mengisyaratkan kerinduan yang sangat kepada pemimpin yang sederhana ; “TERBAYANG JELAS JIWA …..SEDERHANAMU….! BERNISAN BANGGA, BERKAPAL DOA, DARI KAMI YANG MERINDUKAN ORANG SEPERTIMU” Semoga!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Share this post: Share this post with the world.
  • TimesURL
  • Gatorpeeps
  • Muti
  • Twitter
  • Posterous
  • Facebook
  • laaik.it

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

[+] Zaazu Emoticons Zaazu.com