Home » Opini » Sepakbola, hiburan dan nasionalisme!

Sepakbola, hiburan dan nasionalisme!

Perhelatan akbar kelas dunia sebuah pertandingan sepakbola merupakan peristiwa yang sudah menjadi saat yang ditunggu-tunggu bagi sebagian masyarakat. Saat pertandingan besar digelar, misalnya Piala Dunia atau Piala Eropa, masyarakat rela mengurangi jam tidurnya untuk menonton pertandingan langsung dan media menyediakan kolom-kolom khusus untuk mengulas dan mengomentarinya, yang kemudian menjadi lahapan bacaan esok harinya dengan mata yang merah terantuk-antuk.

Masyarakat yang memiliki hobi terhadap olahraga sepakbola masing-masing memiliki kecintaan dan kesenangan saat mendukung sebuah tim yang menjadi kesayangannya. Sungguh menakjubkan saat menyaksikan sebagian masyarakat penonton sepakbola negeri ini, mengelu-elukan dan mengepalkan tangannya mendukung sebuah tim sepakbola negeri lain, lengkap dengan memakai atribut kaos dan mengibarkan bendera negara asal tim sepakbola yang didukungnya. Pada saat itu, nasionalisme tidaklah terlintas dalam kesadaran mereka, terabaikan dan larut oleh kegembiraan menyaksikan tim yang didukungnya bertanding. Padahal tidak ada dan bukan tim negeri sendiri yang bertanding, tetapi tim milik bangsa lain, yang bisa jadi tidak tahu menahu dimana dan siapa mereka. Sama sekali tidak ada pertalian darah, tanah, dan air antara mereka dan tim yang didukungnya. Salahkah ini? Terlalu naif bila menilai para penonton itu sudah tidak punya rasa nasionalisme hanya dengan mendasarkan kepada ulah dan perilaku verbal masyarakat, yaitu mengelu-elukan sembari mengibarkan atribut sebuah tim sepakbola negeri lain.

Media telah membesarkan sebuah tim sepakbola dan tradisi sepakbola suatu negara ke dalam sebuah tatanan yang bernama hiburan global, yang membuka ruang lebih luas bagi masyarakat untuk terpuaskannya kesenangan dan kecintaan terhadap jenis olahraga ini. Permainan mengolah bola di atas lapangan hijau. Bola yang bergerak lincah dari kaki ke kaki dengan teknik tinggi dan strategi yang menarik, berusaha untuk menembus gawang lawan, yang melenakan mata yang melihatnya, merupakan hiburan global yang memiliki haknya untuk dinikmati oleh segenap lapisan masyarakat tanpa memandang warna kulit, ras, agama, jenis kelamin, usia, suku, dan bangsa. Di sini hiburan tidak bisa digandengkan dengan nasionalisme. Hiburan bukan nasionalisme begitu pula sebaliknya nasionalisme bukan hiburan.

Sepakbola sudah menjadi tontonan yang menghibur, tidak hanya sekedar sebuah jenis olahraga. Ronaldo dengan kaki ajaibnya, atau Mario Balotelli dengan kecepatan dan kecermatan tendangannya, merupakan tontonan sekaligus hiburan yang tidak hanya bisa dilihat langsung di dalam sebuah stadion, tetapi telah menembus sekat-sekat ruang dan bahkan negara. Yang dapat dilihat langsung melalui media atau satelit, sampai ke rumah-rumah jauh dari tempat pertandingan, melewati luasnya lautan dan tingginya pegunungan. Setiap orang berhak untuk mendapatkan tontonan yang menghibur. Apalagi sebuah event olahraga yang di dalamnya mengandung unsur-unsur permainan, adu cerdas, adu tangkas, adu cepat dan adu strategi, yang menjadi magnet meriahnya sebuah tontonan.

Sepakbola adalah tontonan yang menghibur bagi sebagian masyarakat, namun bagi sebuah tim yang membawa nama bangsa dan masyarakatnya, pertandingan sepakbola tidak semata-mata sebuah hiburan. Semangat dan tekad kebangsaan menyeruak saat menyanyikan lagu kebangsaan negaranya di awal pertandingan. Di sini pertandingan sepakbola bukan lagi sebagai hiburan bagi mereka, tetapi merupakan pertarungan sekaligus pertaruhan yang kemenangannya akan mengibarkan lebih tinggi panji-panji kebangsaan negaranya. Kemenangan yang akan membangkitkan semangat nasionalisme bangsanya. Kemenangan yang akan menyatukan seluruh masyarakat bangsanya ke dalam satu luapan emosi bersama-sama dalam sebuah kebanggaan. Kebanggaan terhadap bangsa dan negara. Sepakbola adalah nasionalisme! Kapan ya kita bisa masuk ke Piala Dunia? Sehingga sepakbola adalah hiburan sekaligus nasionalisme. Melupakan sejenak masyarakat bangsa ini dari hiruk-pikuk isu negara gagal, kegaduhan politik koruftif dan melemahnya kebhinekaan. Kapan ya?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Share this post: Share this post with the world.
  • TimesURL
  • Gatorpeeps
  • Muti
  • Twitter
  • Posterous
  • Facebook
  • laaik.it

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

[+] Zaazu Emoticons Zaazu.com