Home » Opini » Sudahkah anda tidak korupsi?

Sudahkah anda tidak korupsi?

Baru saja membuka status seorang teman di BBM, dia menulis, sudahkah anda tidak korupsi! Bagaimana menjawab pertanyaan itu, sederhana saja, bukan? Hanya dua pilihan, sudah atau belum. Tetapi untuk bisa menjawab pertanyaan dengan pilihan jawaban yang diharapkan, jawaban yang menjadi nilai-nilai adiluhung kehidupan berbangsa dan bernegara, bukanlah persoalan yang mudah begitu saja. Bagaimana bila pertanyaan itu menyangkut komitmen?

Jawaban yang di dalamnya mengandung komitmen, bisa diidentikkan dengan sumpah atau janji yang harus ditepati. Pelanggaran terhadap sumpah atau janji berarti rusaknya bangunan ketaatan lurusnya tindakan dengan sumpah atau janji yang diucapkan, yang akan menodai sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Pertanyaan dalam status seorang teman itu bisa dikukuhkan dan ditegaskan menjadi bersediakah anda disumpah sebenar-benarnya untuk tidak korupsi?

Melandaskan jawaban dengan kesungguhan, kejujuran, keteguhan hati, serta tekad perjuangan untuk melawan nafsu materi dan ambisi, jelas tidak mudah. Terutama bila pertanyaan teman itu diajukan kepada pejabat atau aparat birokrasi, politik, hukum, bahkan organ perusahaan serta organisasi kemasyarakatan. Bagaimana tidak mudah? Siapa yang berani bersumpah untuk berkomitmen tidak korupsi dan kemudian mengaktualisasikan sumpahnya ke dalam tindakan dan praktek, tidak berarti pangkat, jabatan, karir, pekerjaan dan bisnis, bahkan hidup itu sendiri bisa dijamin menjadi lebih baik.

Tetapi sumpah dan janji tetap harus diucapkan, sebagai kontrak saat menerima tongkat amanah dan tanggung jawab. Tapi akankah sumpah dan janji itu menjadi panduan suci dalam melaksanakan amanah dan tanggungjawab, serta memperoleh gaungnya ke dalam tindakan nyata? Bila tidak, maka sumpah dan janji itu tidak lebih dari pernyataan normatif, bukan sebagai komitmen. Yang tak lebih dari sekedar untuk tunainya prasyarat atau pemenuhan seremonial belaka. Selanjutnya, antara sumpah atau janji dengan tindakan menjadi dua hal yang berbeda.

Begitulah pernyataan normatif pejabat, aparat, pengusaha, serta masyarakat memenuhi ruang kehidupan sosial, politik, hukum serta bisnis, bahkan bisa juga merambah ke dalam ruang kehidupan beragama. Toleransi dalam lisan dan tertulis dalam ayat, bermetamorfosis menjadi intoleransi dalam praktek dan tindakan di lapangan. Yang bisa mengarah kepada anarki dan pertumpahan darah.

Pernyataan normatif benar-benar sudah tidak ada nilainya, diumbar dan diobral. Saat pilkada, pembinaan pegawai, pertemuan bisnis, sarasehan, ceramah, bahkan saat rapat memikirkan rakyat. Tidak cukup sampai di situ, pernyataan normatif itu pun menjadi semboyan sakti di jalan-jalan, koran, majalah dan tv. Tercetak besar dalam papan dan spanduk, tergambar dalam iklan dan drama. Semboyan sakti untuk citra dan ambisi. Siapa yang tidak ingat “Katakan tidak pada korupsi!” Tapi apa yang terjadi? Pedang keadilan sedang diuji kesaktiannya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Share this post: Share this post with the world.
  • TimesURL
  • Gatorpeeps
  • Muti
  • Twitter
  • Posterous
  • Facebook
  • laaik.it

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

[+] Zaazu Emoticons Zaazu.com