Home » Opini » Sukhoi Datang, Kemana Saja Kamu, Tetuko?

Sukhoi Datang, Kemana Saja Kamu, Tetuko?

Sukhoi itu sudah jatuh menabrak tebing dengan menyertakan puluhan korban jiwa. Tangis duka keluarga belumlah saatnya semua mengering dan terhapus, tertiup angin seiring dengan berjalannya roda kehidupan. Sebagiannya masih mengendap dalam ingatan, dan sebagian lainnya sudah terurai oleh kepasrahan dan kesadaran akan takdir kematian yang harus dijalani umat manusia, cepat atau lambat.

Akankah Sukhoi juga akan terhapus dan terlupakan? Nampaknya tidak! Sukhoi-Sukhoi lain nampaknya akan tetap terbang gagah di angkasa. Menembus gelombang awan dirgantara Nusantara. Mereka adalah pernik-pernik milik bangsa lain yang sudah sedemikian rupa mendapat ruang dan restu dari bangsa ini. Ruang dan restu, yang secara tidak sadar, merupakan buah dari penetrasi kapitalisme global yang telah menghempaskan pernik-pernik bangsa milik sendiri.

Tetuko-Tetuko itu, pernik bangsa ini yang sempat membuat decak dan kagum bangsa-bangsa lain, yang sejatinya digadang-gadang untuk menjadi kebanggaan bangsa kelak, terbang di angkasa raya, telah secara sistematis ditempatkan oleh kekuatan kapitalisme global ke dalam sangkar kematiannya.

Itulah mereka, kapitalisme global, yang sebenarnya tidak rela melihat bangsa ini serta bangsa-bangsa lain yang senasib, berusaha untuk mencapai kemandirian dan ketergantungan terhadap mereka itulah yang sebenarnya dirancangbangun untuk tetap terjaga dan terpelihara.

Ketergantungan yang bisa jadi merupakan kebanggaan anak-anak negeri saat menggunakan dan membeli pernik-pernik bangsa lain. Bangga
bila sudah membuat kontrak dengan mereka, bangga makan minum di restoran milik mereka, bahkan sampai ke persoalan pasangan hidup.
Elite bangsa ini sudah tak berdaya untuk memikirkan ulang banyaknya rupiah yang sudah tersedot keluar di depan mata di pintu-pintu gerbang waralaba bangsa-bangsa lain.

Untunglah masih ada kebersamaan dalam kesederhanaan hidup di Kampung Naga dan Kampung Baduy, sebagai warisan budaya bangsa yang selayaknya menjadi rujukan dasar untuk mengingatkan bangsa ini akan perlunya terus berusaha mencapai kemandirian.

Karena kemandirian sejatinya bisa dicapai, seperti halnya di Kampung Naga dan Kampung Baduy itu. Tinggal memilih, budaya hidup mana yang akan diperjuangkan? Bila ketamakan, haus kekuasaan dan harta menjadi budaya hidup yang diperjuangkan, maka kapitalisme global masih memiliki pintu masuknya.

Itulah elit politik, elit bisnis dan elit aparat yang haus akan kekuasaan dan harta, dan mereka itu sebagian besarnya merasa bangga dan terhormat saat menggunakan pernik-pernik bangsa lain itu. Berbondong-bondonglah mereka memasuki waralaba bangsa lain, menyerahkan rupiahnya ke dalam pusaran kapitalisme global. Tidak cukup hanya itu, tambang dan emas pun digadaikan! Wassalam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Share this post: Share this post with the world.
  • TimesURL
  • Gatorpeeps
  • Muti
  • Twitter
  • Posterous
  • Facebook
  • laaik.it

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

[+] Zaazu Emoticons Zaazu.com